Ryi1h4PqfkUjLHIzMIgjDE6TKV9jnZ68MTPsUmOR
Bookmark
Featured Post

Surat dari Shi Daniang dari Negeri Palembang kepada Raja Ryukyu di Jepang

Surat dari Shi Daniang dari Negeri Palembang kepada Raja Ryukyu di Jepang

Bismillahhirrahmannirrahim,
Sebelum menulis tema surat ini, begitu lama dan panjang renungan yang saya lakukan. Saya menghubungi puluhan rekan-rekan saya yang berlatar belakang Tionghoa, namun banyak diantara mereka yang menyerah dengan pembacaan dan penterjemahan surat ini. Hingga di suatu kesempatan bertemulah saya dengan salah satu pengurus Vihara dari Tanjungpinang yang saat itu kebetulan sedang duduk di sebelah saya di kapal yang sama menuju Kota Batam. Disitulah percakapan mengalir hingga saya menunjukkan sebuah surat yang saya ambil dari digital Library National Taiwan University. Dan, beliau membantu menerjemahkannya. Arsip surat yang dikirim oleh seorang wanita rendah hati dari Negeri Palembang yang bernama Shi Daniang ini tentu sudah kami diskusikan dengan seksama dan hati-hati mengenai nama orang, tempat, dan tanggal maupun kiasan Tiongkok lama yang dapat difahami pada hari ini. Surat ini sendiri ditulis menggunakan aksara China dengan gaya Han (Hanzi) tertanggal hari ke 3 bulan ke 2 pada tahun ke 6 pemerintahan Xuande (Kaisar ke-5 dinasti Ming) atau bertepatan dengan tanggal 16 Maret 1431 M. Berikut tampilan arsip yang saya dapat dari Digital Library National Taiwan University dari arsip Kasus Historis Arsip Kekaisaran Volume 1, Bab 43, halaman 1378-1379:



Alih aksara:


三佛齐国宝林邦愚妇俾那智施氏大娘仔百拜上书琉球国王相尊候台前。拜违台诲,倏易岁华。权掌当朝之大事,即日仲春谨时,敬惟公庭清●,钧候纳福无量。自宣德五年船只前来到邦,明称贵国王庭仁义礼祝,未由参拜均墀,少意奉读草那贱国希少贵物。今见便船回国,慱礼贡奉,准表鹅毛之意。草字不专,​​伏乞笑纳。

今开奉来慱礼:红花布被面一合、红花布顶子一合、青花文佃布二合、象牙二条、淡杯仙酒四埕。

宣德六年二月初三日愚妇俾那智施氏大娘仔百拜奉书


Latin:


Sān fú Qí Guóbǎo línbāngyú fù bǐ nà zhì shī shì dàniáng zǐ bǎi bài shàng shū liúqiú guówáng xiāng zūn hòu tái qián. Bài wéi tái huì, shū yì suì huá. Quán zhǎng dāng zhāo zhī dàshì, jírì zhòngchūn jǐn shí, jìng wéi gōng tíng qīng ●, jūn hòu nàfú wúliàng. Zì xuāndé wǔ nián chuánzhī qián lái dào bāng, míng chēng guì guówáng tíng rényì lǐ zhù, wèi yóu cānbài jūn chí, shǎo yì fèng dú cǎo nà jiàn guó xīshǎo guì wù. Jīnjiàn biàn chuán huíguó, tuán lǐ gòng fèng, zhǔn biǎo émáo zhī yì. Cǎozì bù zhuān, fú qǐ xiàonà. Jīn kāi fèng lái tuán lǐ: Hónghuā bù bèi miàn yī hé, hónghuā bù dǐng zǐ yī hé, qīnghuā wén diàn bù èr hé, xiàngyá èrtiáo, dàn bēi xiān jiǔ sì chéng. Xuāndé liù nián èr yuèchū sān rì yú fù bǐ nàzhì shī shì dàniáng zǐ bǎi bài fèngshū


Terjemah:


Wanita rendah hati dari Sriwijaya, Palembang, putri sulung Klan [Na] (Kerajaan) zhishi (Kerajaan Pasai?) Shi Daniang, dengan hormat menulis surat kepada Yang Mulia Raja Ryukyu dengan seratus kali membungkuk. Saya tidak dapat memenuhi instruksi Yang Mulia, dan tahun berlalu dengan cepat. Sekarang, di tengah musim semi, saya dengan hormat mempersembahkan hadiah sederhana ini kepada Yang Mulia, mendoakan istana yang damai dan sejahtera. Sejak tahun kelima pemerintahan Xuande, ketika kapal Anda tiba di kerajaan kami, Anda telah secara terbuka menyatakan kebaikan dan kesopanan istana Anda. Saya belum berkesempatan untuk memberikan penghormatan, tetapi saya telah dengan tergesa-gesa mengirimkan hadiah sederhana dari bangsa saya ini. Sekarang kapal akan kembali pulang, saya mempersembahkan hadiah sederhana ini, sebagai tanda niat saya yang sederhana. Tulisan saya agak canggung, tetapi saya dengan rendah hati memohon Anda untuk menerimanya.

Hadiah yang saya persembahkan adalah: satu set selimut kain bermotif bunga merah, satu set hiasan topi kain bermotif bunga merah, dua set kain bermotif biru-putih, dua helai gading, dan empat cangkir anggur ringan.

Ditulis dengan penuh hormat oleh wanita rendah hati, Shi Daniang, dari hari ketiga bulan kedua tahun keenam pemerintahan Xuande dengan seratus kali membungkuk. (16 Maret 1431 M)


Shi Daniang (氏大娘), cerita yang populer pada hari ini menurut Prof. Tan Ta Sen dalam bukunya yang berjudul Cheng Ho and Islam in Southeast Asia, adalah seorang wanita yang dijuluki sebagai The Great Lady of Gresik atau dikenal dengan nama Nyai Gede Pinatih. Namun, berdasarkan surat diatas, seharusnya Shi Daniang lebih pantas dijuluki The Great Lady of Palembang/Srivijaya. Apakah jaringan Pasifikasi Keamanan Pusat (Palembang) dan Pasifikasi Keamanan Cabang Jawa (Gresik) terhubung satu sama lain? Jika merujuk pada sumber Ming Shilu hubungan perdagangan dan pengaruh politik antara Palembang dan Gresik memang tercatat kurang lebih pada paruh akhir abad 15, namun dengan adanya sumber ini kiranya dapat kita diskusikan bersama mengenai jaringan perdagangan dan politik pada masa-masa yang lebih awal. Terlebih lagi sumber² lain seperti Yingya Shenglan yang ditulis oleh Ma Huan dengan sangat baik menggambarkan keadaan Ko Erh Hsi (Gresik) pada awal abad 15, dan pula didukung dengan keberadaan nisan Malik Ibrahim yang wafat pada 1419 M. Akhir kata, semoga informasi ini berguna dan bermanfaat bagi penelitian maupun diskusi ilmiah di masa yang akan datang.

Wassalamualaikum wr,wb

 

Source & credit:

  • Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Tuan/Master Budiman dari Vihara Maha Giri Buddha di Tanjungpinang. Terima kasih atas diskusi singkat yang menarik ini.
  • Digital Library National Taiwan University
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar